RSS

LANTAI TEGEL DAN NOSTALGIA RUMAH TUA

14 Mar

Secara structural lantai berfungsi untuk menahan beban, baik manusia maupun barang yang ada di dalam ruangan. Untuk itu bahan lantai haruslah memenuhi dua syarat dasar yaitu keras dan tahan lama. Dalam bentuknya yang paling sederhana, lantai tidak lain adalah permukaan tanah di mana bangunan kita didirikan. Dalam perkembangannya bidang lantai banyak mengalami perubahan material dan berevolusi sesuai kebutuhan jaman.

Di Indonesia bahan penutup lantai yang paling lazim saat ini adalah keramik. Keuntungan memakai bahan keramik adalah sifat materialnya yang mudah dibersihkan dan terasa dingin disiang hari. Keramik juga tersedia dalam berbagai pola dan warna sehingga relative cocok untuk berbagai macam tipe ruang dan gaya.

Sebelum keramik populer sabagai bahan penutup lantai, tegel dan marmer merupakan bahan lantai pilihan di Indonesai. Pemakaian marmer sebagai bahan lantai dapat kita jumpai di rumah rumah mewah yang di bangun sebelum era 80-an. Namun demikian marmer tidaklah sepopuler tegel karena harganya yang terlalu mahal bagi masyarakat Indonesia.

tegel

Bahan  penutup lantai yang paling rasional bagi kelas menengah Indonesia di era 50-an hingga 80-an adalah tegel. Dibandingkan dengan keramik, tegel memiliki kelebihan tersendiri dalam hal pemakaian pola dan penyusunannya. Tegel memiliki pola floral yang dapat dikombinasikan dengan bentuk polos. Tegel juga dapat di desain dengan pola “border” dengan warna yang berbeda. Ukuran tegel sebetulnya bervariasi, namun ukuran yang paling lazim adalah 20X20cm. Ukuran ini lebih kecil dibanding keramik yang populer dengan ukuran 30X30cm. Hal ini memberikan keuntungan untuk pemakaian desain pola, karena ukuran 30X30cm akan memberikan kesan visual yang lebih renggang sehingga pola kurang bisa tertangkap kesatuannya.

Kelemahan dari bahan tegel adalah sifat permukaannya yang tidak sehalus keramik sehingga terkesan agak kusam dan kotor. Tegel abu-abu adalah tegel yang paling bayak dipakai di rumah rumah Indonesia. Warna ini menimbulkan kesan sendu dan kurang memberikan latar belakang kontras bagi furniture yang ada di atasnya. Selain abu-abu warna lain yang lazim dipakai adalah warna kuning, hijau muda, merah dan biru.

Saat ini tegel di toko bahan material sudah jarang kita jumpai. Hanya sedikit pabrik tegel yang masih beroperasi dan itupun biasanya hanya melayani pesanan. Walaupun pernah mengalami masa jaya sebagai material lantai di rumah-rumah Indonesia, saat ini tegel ibarat barang anti yang layak dijadikan koleksi. Desainer muda sudah jarang memilih tegel sebagai material penutup lantai walaupun secara artistic tegel memiliki pesona dan daya tarik tersendiri, terutama untuk menciptakan kesan nostalgia pada bangunan-bangunan seperti hotel, restoran ataupun café.

 
Leave a comment

Posted by on 14/03/2012 in Design And Architecture

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: