RSS

Mendesain Ruang (dan Waktu)

24 Apr

Salah satu kunikan rumah tradisional Jepang adalah fleksibilitas ruangnya yang luwes. Berbeda dengan rumah tinggal modern yang didesain dengan menggunakan konsep alokasi ruang, rumah tradisional Jepang didesain dengan konsep alokasi waktu. Perbedaan konsep ini membawa konsekuensi yang berbeda terhadap penampilan ruang.

Konsep alokasi ruang menuntut desainer untuk menentukan terlebih dahulu fungsi ruang yang akan didesain. Misalnya satu rumah tinggal memiliki keluasan 36 meter persegi dan membutuhkan 4 ruang yaitu dapur, ruang keluarga, kamar tidur dan ruang makan. Desainer kemudian membuat zoning ruang dan menentukan area mana saja yang akan digunakan untuk ke 4 ruang tersebut.

Konsep ini biasanya bersifat kaku, artinya sekali suatu ruang ditetapkan sebagai ruang tidur, sulit untuk merubahnya menjadi ruang makan. Ruang tidur akan tetap menjadi ruang tidur dan ruang makan akan tetap menjadi ruang makan. Perubahan hanya mungkin dilakukan jika terjadi renovasi total dan bersifat mendasar.

Berbeda dengan konsep alokasi ruang yang bersifat menetap konsep alokasi waktu tidak membatasi fungsi ruang untuk satu aktifitas tertentu. Rumah tradisional Jepang menggunakan konsep ini untuk mengatasi keterbatasan jumlah ruang yang tersedia. Dalam konsep alokasi waktu, ruang dapat berfungsi untuk mewadahi berbagai aktifitas dalam waktu yang berbeda.

Dipagi hari ruang dapat berfungsi sebagai ruang makan untuk sarapan pagi, setelah sarapan selesai meja makan disimpan dan meja kerja dikeluarkan untuk aktifitas siang hari. Jika malam telah tiba, meja kerja dilipat dan alas tidur dikeluarkan untuk istirahat malam.

Konsep alokasi waktu menuntut penghilangan atribusi ruang, artinya identitas ruang dihilangkan untuk menghindari label ruang yang kaku. Rumah tradisional biasanya minim dekorasi dan memiliki kesamaan bentuk antara ruang yang satu dengan ruang lainnya. Sehingga perubahan fungsi ruang tidak meninggalkan jejak fungsi ruang sebelumnya.

Setelah acara makan selesai maka meja makan dapat dilipat dan ruangan diubah fungsinya menjadi ruang tidur

Penggunaan konsep alokasi waktu sangat cocok bagi rumah yang mungil dan memiliki keterbatasan lahan, hanya saja konsep ini tidak bisa diadopsi serta merta dalam kultur Indonesia mengingat perbedaan cara hidup dan perilaku dalam ruang. Masyarakat Jepang tradisional hanya memiliki beberapa furniture penting seperti Meja dan Futton ( alas tidur ) sehingga penyimpanan barang amat mudah dilakukan.

 
Leave a comment

Posted by on 24/04/2010 in Design And Architecture

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: