RSS

Pengajar atau Penghajar

26 Nov

Menjadi pengajar memang dilematis jika salah melangkah kita mudah terjebak menjadi penghajar. Tugas dan segala macam hal yang kita berikan kepada mahasiswa kadang-kadang berubah menjadi bumerang yang memasung kreatifitas mereka. Seberapa takaran tugas yang layak buat mereka? beberapa pakar saling berbeda pendapat tentang beban yang layak diterima oleh mahasiswa. Saya pribadi berpendapat bahwa beban yang seimbang adalah yang terbaik.Tetapi statement ini bersifat normatif dan tidak menyelesaikan masalah yang ada. Katimbang berputar di wilayah beban mungkin ada baiknya jika kita menengok ke wilayah lain yaitu metoda.

Metoda apakah yang paling tepat untuk mengajar mahasiswa? Baru-baru ini pakar pendidikan memusatkan perhatian pada cara belajar aktif. Cara belajar ini menekankan partisipasi aktif mahasiswa dengan berbagai macam variasinya. Keaktifan mahasiswa tidak terbatas pada diskusi dan pekerjaan kognitif lainnya. Mahasiswa juga dituntut aktif secara fisik di ruang kelas. Sering kali pengajar meminta mereka untuk berkeliling kelas, baik untuk sekedar bergerak ataupun untuk tujuan khusus seperti mencari teman diskusi atau menggali data dari rekan sekelas.

Fisik yang aktif dipercaya mampu mendorong kerja otak secara optimal sehingga mereka juga dituntut untuk senantiasa bergerak. Bisa jadi cara ini terasa janggal manakala kita meminta mahasiswa untuk bersorak-sorak seperti anak TK. Satu hal yang pasti bahwa kegembiraan dan keceriaan di ruang belajar TK patut menjadi acuan bagi pelajaran di perguruan tinggi. Keceriaan dan cara mereka yang lepas dalam mengungkapkan ekspresi secara bebas dan sehat telah hilang dari kampus-kampus universitas. Mungkin ada baiknya kita bercermin pada anak TK, bukan untuk berperilaku kanak-kanak tapi untuk menjadi taman kedewasaan dengan keceriaan

 
1 Comment

Posted by on 26/11/2008 in IMHO

 

One response to “Pengajar atau Penghajar

  1. glodrok

    07/10/2009 at 00:07

    Sip mas…

    REFORMASI METODE PENDIDIKAN

    Kita sebenarnya harus membedakan mana obyek dan mana subyek dalam proses pembelajaran. Sering kali seorang guru/dosen dianggap sebagai obyek yang mengajar obyek (murid/mahasiswa), akibatnya yang terjadi adalah pembelengguan dan dominasi seorang pengajar akibanya sistem pendidikan menjadi status quo, bukan menjadi penggugah (subversive force) ke arah perubahan dan pembaharuan. Padahal potensi murid lebih besar dalam kekreatifannya dan perubahan.

    Menurut saya, proses pembelajaran oleh seorang pengajar bukanlah mengajarkan, tetapi sebagai fasilitator sebuah obyek pelajaran dimana pengajar dan murid mempunyai hak yang sama yaitu subyek yang belajar, subyek yang bertindak dan berpikir . Tugas fasilitator adalah mengembangkan kesadaran kritis para peserta didik. Paulo Fiere (1970) menggolongkan kesadaran manusia menjadi :
    a) kesadaran Magis (magical consciousness),
    b) Kesadaran naif (naival consciousness) dan
    c) kesadaran kritis (critical consciousness).
    Kesadaran ketiga menjadi prioritas Fiere dalam proses pembelajaran modern dimana pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, dan bukan penguasaan (dominasi). Kesadaran kritis bertujuan menigkatkan kesadaran realitas manusia, karena itu secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total. Secara singkat, Paulo Fiere menggambarkan sebagai berikut:
    Tindakan (action) \
    }> kata (word) = karya (work) = Praxis
    Pikiran (reflection) /
    Dengan kata lain, Praxis adalah manunggal karsa, kata dan karya, karena menusia pada dasarnya adalah kesatuan dari fungsi berpikir, berbicara dan berbuat, dan Praxis tidak memisahkan ketiga aspek tersebut. Praxis tersebut tidak berhenti begitu saja, setiap waktu dalam prosesnya, metode ini merangsang ke arah diambilnya suatu tindakan, kemudian tindakan tersebut direfleksikan kembali dan refleksi itu diambil tindakan baru yang lebih baik, demikian seterusnya sehingga proses pendidikan merupakan daur berindak dan berpikir yang berlangsung terus menerus sepanjang hidup. Proses ini dinamakan oleh Paulo Fiere sebagai : “Pendidikan Hadap Masalah” (problem posing education).
    Bertindak—->Berpikir—->Bertindak—->Berpikir—>Dst…

    [numpang nulis]jadi prioritas Fiere dalam proses pembelajaran,

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: