RSS

KARAKTERISTIK VISUAL INTERIOR TRADISIONAL JAWA

16 Nov

Artbanu Wishnu Aji

Staf Pengajar Desain Interior ISI Jogja

Arsitektur tradisional Jawa sering digunakan sebagai acuan dalam mendesain bangunan hotel dan restoran. Hal ini tidak terlepas dari trend konsumen yang menginginkan suasana berbeda dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berada dalam restoran atau hotel bertema tradisional bisa membangkitkan romantisme masa lalu dan atmosfer khas Jawa. Suasana inilah yang dijual kepada konsumen sebagai alternatif interior modern yang cenderung seragam tanpa ciri kedaerahan.

Keberhasilan penerapan gaya tradisional Jawa terletak pada dua hal penting, yaitu bentuk dan karakteristik visual. Bentuk arsitektur tradisional Jawa dapat dengan mudah dikenali melalui penerapan atap Joglo dan ornamen ukir khas Jawa seperti nanasan, patran, tumpal, wajikan dan padma. Ornamen tersebut memberikan ciri khas yang kuat di interior bangunan Jawa karena identitasnya yang telah melekat.

Penempatan dan komposisi ornamen tersebut memiliki aturan tersendiri sesuai dengan makna filosofi yang dikandungnya. Jika seorang desainer atau arsitek berusaha merubah posisi ornamen tersebut maka efek visual yang dihasilkan akan terasa janggal dan mengundang tanda tanya. Makna dan posisi ornamen tradisional menjadi penting untuk di pelajari oleh para desainer muda agar mereka tidak canggung dalam menciptakan suasana Jawa dalam konteks jaman yang berbeda.

Selain penempatan ornamen yang tepat, hal yang tidak kalah penting dalam menciptakan suasana interior Jawa adalah pemahaman tentang karakteristik visual. Karakteristik visual ini tercipta dari penggabungan beberapa hal sekaligus yaitu tata cahaya, warna dan proporsi. Hasil penelitian tim desainer interior ISI-Jogja terhadap karakteristik visual bangunan Jawa menunjukkan hasil yang menarik.Perletakan ornamen yang sesuai pakem tanpa dibarengi dengan karakter visual yang mendukung ternyata menimbulkan ambiguitas di atmosfer interiornya.

Karakter visual yang sesuai dengan bagunan tradisonal Jawa memiliki perbedaan dengan standarisasi dengan bangunan modern. Pencahayaan bangunan tradisional Jawa cenderung temaram untuk menciptakan kesan berwibawa dan syahdu. Warna yang digunakanpun cenderung monokromatis atau senada tanpa warna kontras yang terkesan meriah dan ramai. Kesan kedamaian dan ketenangan sangat penting dalam mendukung karakteristik visual di bangunan tradisional Jawa. Hal ini selaras dengan filosofi masyarakat Jawa yang mengedepankan harmoni dan menghindari konflik secara terbuka. Masyarakat Jawa menganggap “aji” atau kewibawaan rumah sebagai salah satu faktor penting dalam penataan interiornya.

Proporsi bangunan tradisonal Jawa juga memiliki karakteristik visual yang khas. Bangunan tradisonal yang dibuat terlalu tinggi ternyata justru menghilangkan kesan megah. Bagian depan sebaiknya tetap dibuat rendah untuk menhindari kesan terbuka yang berlebihan. Proporsi antara tinggi dan lebar bangunan sebaiknya tetap dibuat horisontal agar tercipta kesan lebar dan mewah.

Hal terakahir yang perlu diperhatikan adalah fungsi ruang dari bangunan tradisonal tersebut. Saat ini pendopo telah menjadi bangunan multi fungsi dari mulai lobi hotel, balai desa, restoran dan gedung pernikahan. Satu hal yang sulit di bayangkan adalah merubah pendopo menjadi diskotik dengan lampu redup-gemerlap dan musik yang hingar bingar.

 
4 Comments

Posted by on 16/11/2008 in Design And Architecture

 

4 responses to “KARAKTERISTIK VISUAL INTERIOR TRADISIONAL JAWA

  1. sita

    08/09/2009 at 02:17

    daftar pustaka bisa di kirim ke email ga?saya lagi butuh tentang karakteristik interior Jawa. makasih…

     
  2. yosshi

    07/10/2009 at 09:31

    kalo saya interior bali boleh ndak?

     
  3. za 081380548080

    02/08/2010 at 11:04

    Dimana cari para designer nya atau bahan2 interiornya ???

     
    • artbanu

      02/08/2010 at 11:27

      lulusan desainer interior yang mendalami bidang interior tradisional Jawa saat ini belum terlalu banyak, tetapi beberapa sekolah desain seperti di ISI Jogja memiliki resource multi disiplin yang dapat mengembangkan interior tradisional Jawa ( silahkan menghubungi BID ISI Jogja jika memerlukan info lebih lanjut). Bahan baku interior tradisional Jawa biasanya mereupakan bahan daur ulang dari rumah rumah tradisional lama. Joglo merupakan konstruksi knock down yang mudah dibongkar pasang sehingga bisa dipindahkan ke lokasi lain. Cara ini merupakan cara yang lazim, namun dalam skala yang massive dapat mengancam kelestarian rumah rumah tradisional Asli. Bahan baru, seperti kayu jati merupakan bahan dasar untuk pembuatan konstruksi Joglo. Kelemahannya adalah bahan baru ini sering terlihat “baru” sehingga mengurangi nuansa sakral dan wibawa dari joglo tersebut

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: