<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>the art of banu</title>
	<atom:link href="http://artbanu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://artbanu.wordpress.com</link>
	<description>Desain dan Arsitektur</description>
	<lastBuildDate>Sun, 23 Oct 2011 14:09:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='artbanu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>the art of banu</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://artbanu.wordpress.com/osd.xml" title="the art of banu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://artbanu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PINTU GERBANG di RUMAH KITA</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/10/23/pintu-gerbang-di-rumah-kita/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/10/23/pintu-gerbang-di-rumah-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Oct 2011 14:09:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Pada masa Jawa klasik komplek perumahan di lingkungan kerajaan dikelilingi oleh pagar pembatas dan memiliki pintu gerbang berbentuk candi bentar. Seiring berjalannya waktu, rumah tradisional jawa mulai berevolusi mengikuti perkembangan gaya hidup dan kemajuan jaman yang terus bergulir. Saat ini hanya rumah-rumah pangeran Jawa yang masih memiliki pintu gerbang ( regol) sisa sisa dari masa-masa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=142&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Pada masa Jawa klasik komplek perumahan di lingkungan kerajaan dikelilingi oleh pagar pembatas dan memiliki pintu gerbang berbentuk candi bentar. Seiring berjalannya waktu, rumah tradisional jawa mulai berevolusi mengikuti perkembangan gaya hidup dan kemajuan jaman yang terus bergulir. Saat ini hanya rumah-rumah pangeran Jawa yang masih memiliki pintu gerbang ( regol) sisa sisa dari masa-masa pembuatannya di abad 18-19.</p>
<p style="text-align:justify;">Fungsi pintu gerbang sebetulnya tidak hanya bersifat fisik melainkan juga psikologis. Secara fisik pintu gerbang menjadi pembatas antara luar dan dalam. Pemisahan ini berfungsi untuk upaya pengamanan dan pengawasan agar tamu yang datang berkunjung dapat dikontrol dan diawasi. Secara psikologis gerbang juga memiliki kesan protektif yang dominan sehingga orang menjadi segan untuk memasukinya jika tidak memiliki keperluan tertentu dengan pemilik rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Model dan variasi desain pintu gerbang sangat bervariasi antar satu budaya dengan budaya lainnya. Di Jepang pintu gerbang rumah rumah tradisional umumnya terbuat dari kayu dan memiliki nilai estetika yang tinggi. Gerbang di rumah rumah Jepang memberikan kesan yang sangat tertutup namun tetap menampilkan sisi estetika yang ramah. Gerbang rumah rumah di Eropa pada umumnya bersifat transparan dengan menggunakan pagar besi atau pagar kayu yang tidak menutupi sepenuhnya pemandangan kedalam area perumahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Indonesia penggunaan pagar tinggi dan pintu gerbang memiliki konsekuensi sosiologis yang kurang menguntungkan, yaitu adanya kesan sombong dan menutup diri terhadap lingkungan sekitarnya. Meskipun secara historis contoh penggunaan gerbang tertutup ini dapat kita jumapai di rumah rumah Jawa namun pada perkembangannya bentuk pintu gerbang ini memiliki arti dan pesan yang berbeda. Pada masa abad 18-19 pintu gerbang ini memiliki pesan otoritas dan kewibawaan dengan tujuan memproteksi diri dari pihak pihak yang tidak berkepentingan. Saat ini pesan tersebut telah berubah meskipun tujuannya masih tetap sama yaitu untuk proteksi diri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebagai elemen desain, gerbang memiliki potensi estetis untuk memperindah rumah kita. Hal yang perlu dilakukan adalah menyesuaikan bentuk desain gerbang sesaui dengan kondisi sosiologis masyarakat Indonesia saat ini. Bentuk pintu gerbang yang massive dan tertutup rapat sebaiknya dihindari agar tidak terkesan angkuh dan sombong terhadap lingkungan sekitarnya. Desain yang ringan dengan kesan terbuka dapat dihasilkan dengan penggunaan bahan bahan seperti besi dengan pola jeruji. Menutupi jeruji besi dengan fiberglass seperti yang banyak kita lihat di kota kota besar adalah sesuatu yang kontra produktif, akan lebih baik jika jeruji itu tetap terbuka seperti desain aslinya. Jika kita menginginkan bentuk yang lebih tertutup gunakan bahan papan kayu berjajar dengan celah yang sempit sekitar 2 cm sehingga secara visual masih berkesan ringan namun privasi kita tetap terjaga</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/142/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/142/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=142&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/10/23/pintu-gerbang-di-rumah-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Vandalisme dalam desain interior</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/vandalisme-dalam-desain-interior/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/vandalisme-dalam-desain-interior/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 12:49:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=102</guid>
		<description><![CDATA[Vandalisme adalah kejahatan yang sering diasosiasikan dengan lingkungan urban dan situasi kota besar yang penuh kekekarasan. Dibalik semua citra itu ternyata jenis kejahatan ini sering juga kita jumpai di interior bangunan, terutama interior bangunan public seperti terminal, rumah makan, kantor, kampus serta sekolah. Tempat tempat yang menjadi sasaran vandalism di interior bangunan sangat bervariasi tapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=102&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Vandalisme adalah kejahatan yang sering diasosiasikan dengan lingkungan urban dan situasi kota besar yang penuh kekekarasan. Dibalik semua citra itu ternyata jenis kejahatan ini sering juga kita jumpai di interior bangunan, terutama interior bangunan public seperti terminal, rumah makan, kantor, kampus serta sekolah. Tempat tempat yang menjadi sasaran vandalism di interior bangunan sangat bervariasi tapi secara umum tembok, pintu, meja dan kursi adalah tempat utama bagi sasaran vandalisme.</p>
<div id="attachment_123" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/225668_1822662009722_1335364181_31968553_8058495_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-123" title="225668_1822662009722_1335364181_31968553_8058495_n" src="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/225668_1822662009722_1335364181_31968553_8058495_n.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Architect Frank Gehry seringkali menciptakan vandalisme dalam konteks yang positif</p></div>
<p style="text-align:justify;" align="center">Tempat atau sudut sudut yang menjadi sasaran vandalisme pada umumnya adalah tempat yang kurang mendapat pengawasan. Kurangnya pengawasan ini bisa disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah sifat ruang itu sendiri yang tidak memungkinkan pengawasan secara intensif. Contoh dari ruang ini adalah kamar mandi dan WC umum. Kedua tempat ini tidak mungkin diawasi secara lekat karena melanggar aturan privasi penggunannya. Akibatnya di kamar mandi dan WC umum sering kita jumpai coretan coretan ataupun jenis pengrusakan property seperty pintu dan wastafel. Sebab kedua hasil dari desain ruang yang bersifat residual atau sisa sisa ruang. Ruang ini biasanya adalah ruang belakang atau sudut sudut yang kurang menarik.</p>
<p style="text-align:justify;">Sasaran vandalisme secara teoritis merupakan tempat yang dirasa “kurang diperhatikan” atau setidaknya menurut pelaku vandalisme tempat tersebut tidak terlalu mendapat perhatian utama. Faktor lain yang mendorong vandalisme adalah “pancingan awal” yang bersifat mengundang. Pancingan ini bisa berupa kerusakan kecil yang diabaikan atau tidak segera diperbaiki. Kerusakan kecil ini memberi stimulus bagi pelaku vandalisme untuk melakukan aksinya karena mereka “membaca pesan” bahwa tempat tersebut terabaikan. Adanya coretan awal dimuka dinding akan memancing pelaku lain untuk “berkreasi” jika tidak segera ditangani.</p>
<p style="text-align:justify;">Memerangi vandalisme adalah hal yang sulit dilakukan namun bukan berarti tidak bisa. Beberapa konsep desain menawarkan solusi untuk meminimalisir dampak aktivitas liar ini. Salah satu cara yang dikembangkan adalah membuat desain yang “tidak mengundang” bagi pelaku vandalisme. Prinsip ini dilakukan dengan berbagai macam strategi diantaranya member penerangan yang cukup disudut sudut ruang, menghias space kosong agar terlihat terawat dan berguna, menerapkan bahan anti gores seperti stainless steel. Semua strategi ini harus dikombinasikan dengan psikologi pelaku vandalisme dan diterapkan secara simultan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pelaku vandalisme pada umumnya melakukan aksinya ketika pengawasan dari pihak lain dirasakan kurang. Pemasangan kamera CCTV tentu bisa membantu akan tetapi ruang seperti kamar mandi dan WC tentu tidak mungkin menerapkan solusi ini. Satu hal yang menarik adalah bahwa kamar mandi umum di Mall mewah lebih jarang menjadi sasaran vandalisme katimbang kamar mandi umum terminal bis antar kota.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/102/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/102/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=102&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/vandalisme-dalam-desain-interior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/225668_1822662009722_1335364181_31968553_8058495_n.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">225668_1822662009722_1335364181_31968553_8058495_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Desain Interior Yang Adaptif (Intelligent environment)</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/desain-interior-yang-adaptif-intelligent-environment/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/desain-interior-yang-adaptif-intelligent-environment/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 09:18:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Dalam upayanya untuk menciptakan kenyamanan di dalam ruang, desainer interior terus mengembangkan konsep-konsep baru yang bertujuan untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada. Salah satu inovasi yang saat ini sedang dikembangakan oleh desainer desainer di negara maju adalah konsep “lingkungan pintar” atau intelligent environment.  Konsep ruang atau lingkungan pintar sebetulnya telah sering kita jumpai di film film [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=94&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Dalam upayanya untuk menciptakan kenyamanan di dalam ruang, desainer interior terus mengembangkan konsep-konsep baru yang bertujuan untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan yang ada. Salah satu inovasi yang saat ini sedang dikembangakan oleh desainer desainer di negara maju adalah konsep “lingkungan pintar” atau <em>intelligent environment.</em></p>
<div id="attachment_126" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/166689_1607286345465_1335364181_31650568_7309651_n.jpg"><img class="size-medium wp-image-126" title="166689_1607286345465_1335364181_31650568_7309651_n" src="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/166689_1607286345465_1335364181_31650568_7309651_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Kuat cahaya yang dibutuhkan tiap individu untuk dapat tidur dengan nyaman berbeda satu dengan yang lainnya sehingga seringkali menimbulkan benturan &quot;selera&quot;</p></div>
<p style="text-align:justify;"> Konsep ruang atau lingkungan pintar sebetulnya telah sering kita jumpai di film film fiksi futuistik seperti star trek. Kapal induk USS Enterprise memiliki banyak kabin yang mengaplikasikan konsep ruang pintar ini. Misalnya ketika masuk ruangan maka lampu otomatis akan menyala dan temperature ruang akan menyesuaikan dengan kebutuhan pemakai ruang. Selain itu jika penghuni menginginkan suara muik, maka dia hanya perlu untuk memberikan perintah suara dan music akan secara otomatis menyala.</p>
<p style="text-align:justify;"> Aplikasi konsep ruang pintar ini sudah mulai diujicobakan sebagai pilot project dalam riset riset <em>environmental design</em>. Beberapa permasalahan yang saat ini masih belum terpecahkan diantaranya adalah ukuran standar normative kenyamanan yang berbeda beda antar satu pemakai ruang dengan pemakai lainnya.</p>
<p style="text-align:justify;"> Ruang pintar pada dasarnya memiliki model yang sederhana yaitu stimulus atau input, sensor, pengolah data dan aksi. Input dapat berupa perintah langsung baik suara maupun pemrogaman tetap. Pemograman tetap adalah input data yang dimasukkan dalam memori yang meliputi informasi tentang suhu ruang, intensitas cahaya, suara music dan volumenya serta perangkat lain yang mungkin dibutuhkan oleh pemakai ruang. Selanjutnya input ini akan diproses apabila sensor menangkap kehadiran pemakai ruang dan memberi perintah kepada mesin untuk mengeksekusi program yang sudah dituliskan.</p>
<p style="text-align:justify;"> Saat ini program tersebut hanya bisa mengakomodasi satu preferensi dari pemakai sedangkan untuk ruang yang dipakai oleh banyak orang masih membutuhkan banyak upaya penyempurnaan karena harus tercapai kompromi antara preferensi satu individu dan individu lain yang berbeda beda.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>  </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/94/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/94/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=94&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/desain-interior-yang-adaptif-intelligent-environment/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/166689_1607286345465_1335364181_31650568_7309651_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">166689_1607286345465_1335364181_31650568_7309651_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kriteria Desain Yang Baik</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/kriteria-desain-yang-baik/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/kriteria-desain-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 06:59:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun bidang desain berkait erat dengan selera subyektif, ukuran standar normatif harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan hasil akhirnya. Ukuran normative ini merupakan parameter yang bisa diukur keberhasilannya sehingga tidak menimbulkan perdebatan subyektif yang tiada akhir. Toshiharu Taura dan Yukari Nagai dalam artikelnya Discussion on Direction of Design Creativity Research (Part 1) &#8211; NewDefinition [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=70&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Meskipun bidang desain berkait erat dengan selera subyektif, ukuran standar normatif harus tetap menjadi pertimbangan utama dalam menentukan hasil akhirnya. Ukuran normative ini merupakan parameter yang bisa diukur keberhasilannya sehingga tidak menimbulkan perdebatan subyektif yang tiada akhir. Toshiharu Taura dan Yukari Nagai dalam artikelnya <em>Discussion on Direction of Design Creativity Research (Part 1) &#8211; NewDefinition of Design and Creativity: Beyond the Problem-Solving Paradigm</em> menulis bahwa setidaknya ada 5 hal yang diharapkan dari setiap produk desain yaitu: Mudah digunakan, nyaman, terjangkau secara ekonomi, tidak memboroskan energy dan mudah dipahami penggunaanya.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center"><a href="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/64486_1500023023949_1335364181_31446198_1065799_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-129" title="64486_1500023023949_1335364181_31446198_1065799_n" src="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/64486_1500023023949_1335364181_31446198_1065799_n.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Desainer harus memahami ke-5 harapan tersebut sebagai Kriteria yang harus dipeneuhi dalam setiap karya desainnya. Porsi yang ditetapkan untuk masing masing item criteria tersebut bisa berbeda beda. Misalkan untuk mendisain ruang keluarga, criteria kenyamanan bisa jadi menempati urutan teratas sedangkan masalah ekonomi mungkin tidak terlalu mendapat perhatian utama. Sebaliknya dalam mendisain dapur atau ruang kerja, kejelasan atau kemudahan penggunaan menjadi prioritas utama.</p>
<p style="text-align:justify;">Kriteria desain juga terkait erat dengan tujuan desain yang akan dicapai. Desain yang bertujuan untuk meningkatkan efesiensi dan efektifitas kerja menuntut penghematan energy dan biaya perawatan yang rendah. Kerangka berpikir dalam kelompok criteria ini memudahkan desainer untuk mengganti dan mengatur urutan prioritas yang harus diterapkan dalam setiap proyek desain.</p>
<p style="text-align:justify;">Desain yang baik tidak selalu harus memiliki nilai maksimal dalam setiap item criteria, ada kalanya nilai keterjangkauan ekonomis harus dikorbankan untuk mengejar kenyamanan. Artinya harga yang mahal harus bisa membayar tingkat kenyamanan yang diharapkan. kita bisa dengan mudah membalik cara berpikir semacam ini menjadi alat untuk mengukur desain yang gagal, yaitu harga yang mahal dan tingkat kenyamanan yang rendah.</p>
<p style="text-align:justify;">Desainer interior rumah tinggal seringkali bertabrakan dengan konsep- konsep normative yang baku. Nilai subyektifitas pemilik rumah merupakan factor utama dalam menentukan hasil akhir desain. Penghematan energy seringkali diabaikan demi untuk menjaga standar kemewahan yang tidak perlu seperti pemasangan AC dan lampu-lampu spot berdaya tinggi. Tentu tidak ada salahnya bagi mereka untuk memiliki apapun yang mereka inginkan, hanya saja ada baiknya kita semua menjadi sadar dan peduli bahwa jika bisa dibuat hemat, mengapa dibuat mahal? Selain itu pengurangan pemakaian listrik yang tidak perlu dapat mengurangi dampak pemanasan global yang semakin parah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=70&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/09/08/kriteria-desain-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/09/64486_1500023023949_1335364181_31446198_1065799_n.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">64486_1500023023949_1335364181_31446198_1065799_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jatidiri Desain Interior Indonesia</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/08/01/jatidiri-desain-interior-indonesia/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/08/01/jatidiri-desain-interior-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Aug 2011 07:17:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Mencari jatidiri desain interior Indonesia adalah sebuah upaya yang sama beratnya dengan mencari kesepakatan tentang nilai nilai keIndonesian . Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang memilik banyak tradisi dan adat istiadat yang beragam. Walaupun secara politik memiliki kesamaan visi dan misi, secara budaya bangsa Indonesia masih harus melakukan banyak penyesuaian dan kompromi yang belum berakhir. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=68&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;" align="center">Mencari jatidiri desain interior Indonesia adalah sebuah upaya yang sama beratnya dengan mencari kesepakatan tentang nilai nilai keIndonesian . Bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang memilik banyak tradisi dan adat istiadat yang beragam. Walaupun secara politik memiliki kesamaan visi dan misi, secara budaya bangsa Indonesia masih harus melakukan banyak penyesuaian dan kompromi yang belum berakhir.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">Desain interior pada dasarnya adalah jawaban manusia terhadap kebutuhan ruang tinggal yang didasari pada pola perilaku, kebiasaan, selera artistic dan nilai nilai simbolok. Melihat variable yang menentukan dalam sebuah desain interior yang begitu komplek tentu kita akan segera sadar bahwa kebutuhan satu individu dengan individu yang lain pastilah berbeda, apalagi dalam suku yang berbeda beda. Hal inilah yang menyebabkan jawaban desain lokal memiliki keragaman yang begitu kaya di Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika melihat perbedaan akan menimbulkan kesulitan dan kekaburan difinisi, maka ada baiknya kita melihat kesamaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia secara umum. Masyarakat Indonesia secara umum adalah masyarakat komunal yang memiliki solidaritas social tinggi dan keterbukaan terhadap tamu ataupun orang asing yang bersahabat. Hal ini ditunjukkan pada banyaknya ruang ruang yang bersifat terbuka dan menampung banyak orang sekaligus, seperti rumah panjang di Kalimantan ataupun Pendopo di Jawa. Dari segi bentuk tampilan kedua ruang tersebut berbeda, ekspresi artistic yang ditampilkan juga berbeda sehingga mencari kesamaan ekspresi bentuk bukan jawaban dari pencarian jatidiri yang kita inginkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal yang lebih mendasar adalah mencari konsep pemakaian ruang dan sifat ruang. Di beberapa suku di Indonesia seperti komunitas masyarakat sunda di kampung Naga, kebutuhan perabot amatlah terbatas. Kita bisa melihat bahwa hampir semua rumah tradisional di Indonesia hanya memiliki sedikit perabot. Nama nama perabot seperti “Kursi” dan “meja” adalah bahasa serapan dari bahasa Arab dan Portugis. Kita bisa menarik kesimpulan bahwa kedua perabot tersebut merupakan konsep pinjaman yang berasal dari budaya asing walaupun bangsa Indonesia memiliki perabot sejenis kursi dan meja namun keduanya tidak sama dengan konsep meja dan kursi yang kita kenal sekarang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekelumit hal di atas bisa kita perdalam dengan menggali banyak symbol symbol budaya tradisional yang bersifat inter etnis atau lintas suku di Indonesia sehingga kita bisa menemukan jatidiri atau akar dari desain interior Indonesia. Namun demikian budaya adalah sebuah entitas yang hidup dan dinamis. Pada titik tertentu kita bisa menentukan bahwa semua suku di Indonesia menyukai nilai nilai keterbukaan akan tetapi saat ini tentu nilai nilai tersebut harus dikaji ulang karena adanya pengaruh modernisasi dan infiltrasi budaya luar. Bukan berarti bahwa pengaruh luar tersebut buruk bagi desain interior Indonesia namun seperti yang saya ungkapkan di atas kita membutuhkan kompromi dan penyesuaian untuk menjadi INDONESIA</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=68&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/08/01/jatidiri-desain-interior-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>DESAIN INTERIOR DAN EKSPRESI PRIBADI</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/07/28/desain-interior-dan-ekspresi-pribadi/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/07/28/desain-interior-dan-ekspresi-pribadi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jul 2011 06:19:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=66</guid>
		<description><![CDATA[              Salah satu keistimewaan rumah tinggal modern di Indonesia adalah adanya ruang tamu yang relatif terisolasi dari ruang ruang lain. Isolasi ini tidak selalu bersifat fisik, kadang batas antara ruang tamu dan ruang lainnya hanya dipisahkan dengan jenis perabot yang dipakai. Misal ruang tamu selalu ditandai dengan adanya kursi tamu dan meja, sedangkan ruang sebelahnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=66&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">              Salah satu keistimewaan rumah tinggal modern di Indonesia adalah adanya ruang tamu yang relatif terisolasi dari ruang ruang lain. Isolasi ini tidak selalu bersifat fisik, kadang batas antara ruang tamu dan ruang lainnya hanya dipisahkan dengan jenis perabot yang dipakai. Misal ruang tamu selalu ditandai dengan adanya kursi tamu dan meja, sedangkan ruang sebelahnya biasanya adalah ruang keluarga atau ruang makan yang ditandai dengan kursi santai atau meja makan dan kursinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam kondisi yang terbatas kadangkala kita menjumpai ruang keluarga dan ruang tamu yang “tidak terpisah” atau dipakai dengan model multi fungsi. Kondisi ini adalah kondisi yang khusus, secara umum apabila ketersedian ruang dan dana cukup memadai maka kebanyakan keluarga Indonesia memilih untuk memiliki ruang tamu yang “terpisah”.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/07/6060_1150801813637_1335364181_30568729_7271408_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-132" title="6060_1150801813637_1335364181_30568729_7271408_n" src="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/07/6060_1150801813637_1335364181_30568729_7271408_n.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><br />
Jika kita membandingkan rumah tradisional dengan rumah modern maka akan terlihat bahwa symbol symbol yang digunakan oleh rumah modern cenderung bersifat individual dan ekspresif. Rumah tradisional Jawa memiliki Joglo sebagai ruang public yang biasa juga digunakan untuk ruang menerima tamu. Perbedaan yang nyata antara ruang tamu Joglo dan ruang tamu modern adalah pada skalanya. Skala ini dengan sendirinya sudah menunjukkan status social si pemilik rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Ruang tamu modern tidak bisa menunjukkan status social ini dengan segera, meskipun besarnya rumah, model dan bahan yang digunakan oleh rumah tersebut bisa menunjukkan indikasi kuat tentang tingkat pendapatan ekonomi si pemilik rumah. Untuk menunjukkan status dan posisi sosialnya secara jelas, pemilik rumah biasanya menambahkan “hiasan” dalam ruang tamu tersebut. Adalah hal yang wajar jika kita menjumpai foto wisuda di ruang tamu ataupun foto bersalaman dengan Presiden dalam sebuah acara kenegaraan. Hiasan ini membantu mendefinisikan status social si pemiliki rumah kepada para tamunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah tradisional menggunakan symbol symbol konvensional yang bersifat komunal untuk menunjukkan status social. Banyaknya tanduk kerbau di rumah Toraja memiliki arti tersendiri bagi masayarakat Toraja yang mungkin tidak dipahami oleh masyarakat Bali. Simbol symbol tradisional dalam interior rumah Jawa lebih mencerminkan nilai filosofis katimbang nilai nilai individu. Dilain pihak rumah rumah di kampung naga cenderung untuk meniadakan hiasan sebagai bentuk kebersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kehidupan modern memang menuntun kita untuk menunjukkan jatidiri individu kita kepada orang lain. Kita bisa dikenali dari ciri ciri fisik yang kita miliki akan tetapi pengenalan status social membutuhkan penanda yang lebih kompleks. Seadaninya kita masuk keruang tamu seseorang dan hanya menjumpai tikar dan dinding polos putih tanpa hiasan tentu kita memiliki persepsi tersendiri terhadap si empunya rumah. Entah persepsi itu benar atau tidak hal tersebut tidak menjadi masalah, akan tetapi bahwa kita menilai seseorang dari kondisi ruang tamunya adalah sesuatu yang sulit kita hindari jika bertamu. Ada baiknya kita menata ruang tamu sesuai dengan apa yang ingin orang lihat dari diri kita, tetapi sebaiknya apa yang kita perlihatkan bukanlah hal yang membuat orang bertanya –tanya tapi cukup membuat mereka mengangguk dan memahami siapa diri kita sewajarnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/66/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/66/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=66&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/07/28/desain-interior-dan-ekspresi-pribadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artbanu.files.wordpress.com/2011/07/6060_1150801813637_1335364181_30568729_7271408_n.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">6060_1150801813637_1335364181_30568729_7271408_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“RASA TEMPAT” DALAM DESAIN INTERIOR</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2011/06/16/%e2%80%9crasa-tempat%e2%80%9d-dalam-desain-interior/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2011/06/16/%e2%80%9crasa-tempat%e2%80%9d-dalam-desain-interior/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 04:58:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Konsep “rasa tempat” ( Sense of place) adalah konsep yang sering digunakan dalam bidang geografi, arsitektur dan urban desain. Konsep ini setidaknya mengandung dua pengertian dasar dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu subyek dan obyek. Pengertian pertama merujuk pada perasaan subyek atau individu terhadap suatu tempat yang di diaminya. Dalam desain interior kita bisa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=62&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Konsep “rasa tempat” ( Sense of place) adalah konsep yang sering digunakan dalam bidang geografi, arsitektur dan urban desain. Konsep ini setidaknya mengandung dua pengertian dasar dari dua sudut pandang yang berbeda yaitu subyek dan obyek. Pengertian pertama merujuk pada perasaan subyek atau individu terhadap suatu tempat yang di diaminya. Dalam desain interior kita bisa mencontohkan perasaan ini sebagai “merasa hommy” atau betah di rumah.</p>
<p style="text-align:justify;">Rasa tempat seseorang terhadap tempat bisa muncul karena beberapa sebab diantaranya adalah kenangan dan aktifitas yang dilakukan di dalam tempat tersebut. Kita merasa lekat dengan ruang keluarga di rumah karena adanya “kenangan indah” berkumpul bersama dengan orang-orang yang kita cintai ketika sedang menonton televisi. Bisa jadi ruang keluarga tersebut berdinding kusam dan berperabot usang, namun kenagan manis di dalamnya membuat kita merasa nyaman dan betah bersama keluarga. Pengertian yang kedua merujuk pada obyek yang dituju, dalam hal ini adalah “tempat” itu sendiri. Beberapa tempat memiliki karakteristik yang unik dan sangat kuat seperti pada interior masjid atau gereja. Ciri-ciri yang menonjol di tempat ibadah seperti adanya migrab dan altar membuat seseorang merasa harus bersikap tenang dan sopan di dalam ruang ibadah. Interior dengan karakteristik kuat membuat kita merasa “ada” dalam suatu tempat ketika kita memasukinya. Perasaan ini akan berbeda jika dibandingkan dengan memasuki gedung pertemuan ketika tidak ada event tertentu di dalamnya. Hanya ruang kosong dan kesunyian yang kita rasakan tidak ada kesan tertentu selain ruang lebar dan tanpa cerita.</p>
<p style="text-align:justify;">Desain interior yang baik memiliki “rasa tempat” yang sesuai dengan emosi yang ingin diciptakannya. Mendisain rasa tempat dapat dilakukan dengan memanipulasi bentuk ruang dan menciptakan kegiatan yang memanusiakan ruang. Kombinasi antara aktivitas dan elemen pengisi ruang merupakan strategi yang paling efektif untuk menciptakan rasa tempat yang kuat. Buatlah ruang yang ada inginkan dan lakukan kegiatan kegiatan menyenangkan di dalamnya. Pembentukan interior yang holistik membutuhkan juga pendekatan yang melampui bentuk fisik ruang. Selain unsur bentuk kita juga harus mempertimbangkan unsur bunyi, citra, hawa, emosi dan aktivitas penghuni serta hubungan antar sesama pengguna ruang. Keindahan ruang bisa diciptakan dengan hiasan, cat dan pencahayaan yang artistik, namun demikian ruang yang nyaman hanya bisa dinikmati oleh penghuni yang bahagia</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=62&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2011/06/16/%e2%80%9crasa-tempat%e2%80%9d-dalam-desain-interior/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MAKAN DI RUANG MAKAN</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2010/06/25/makan-di-ruang-makan/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2010/06/25/makan-di-ruang-makan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jun 2010 08:11:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Berapa banyak masyarakat Indonesia yang memiliki ruang makan? Belum ada data survey resmi yang menyakatan jumlahnya yang pasti. Satu hal yang pasti ruang makan tidak memiliki alokasi ruang yang khusus di rumah tradisional Jawa. Rumah tradisional Jawa memang meiliki dapur yang luas dan tempat untuk duduk yang mampu mengakomodasi orang dalam jumlah besar akan tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=55&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Berapa banyak masyarakat Indonesia yang memiliki ruang makan? Belum ada data survey resmi yang menyakatan jumlahnya yang pasti. Satu hal yang pasti ruang makan tidak memiliki alokasi ruang yang khusus di rumah tradisional Jawa. Rumah tradisional Jawa memang meiliki dapur yang luas dan tempat untuk duduk yang mampu mengakomodasi orang dalam jumlah besar akan tetapi hal ini tidak identik dengan ruang makan. Ruang makan yang kita kenal sekarang ini merupakan ruang khusus yang di dalamnya terdapat meja makan dan segala perlengkapannya. Ruang ini biasanya digunakan pada saat jam makan entah itu sarapan, makan siang dan makan malam. Di luar jam jam tersebut ruang makan sangat jarang digunakan, terutama jika rumah tersebut memiliki banyak ruang khusus, seperti ruang belajar, ruang TV, ruang keluarga dan ruang kerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak rumah tinggal modern di Indonesia yang menggabungkan fungsi ruang makan dan dapur. Tidak jarang ruang keluarga dan ruang makan juga digabung dalam satu ruangan besar. Apapun konfigurasi ruangnya, cirikhas yang menandai sebuah ruang makan adalah adanya satu set meja makan dan kursi makannya. Dalam gambaran keluarga ideal di TV Indonesia, ruang makan merupakan sarana untuk membina keakraban dengan anggota keluarga lain pada saat makan malam atau makan pagi. Gambaran ini sebetulnya mengandung bias jika dilihat dari ketersedian ruang makan di rumah rumah masyarakat Indonesia pada umumnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumah tipe 21 biasanya tidak memiliki ruang makan, rumah rumah petak juga tidak memiliki ruang makan. Fakta ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia tidak memiliki ruang makan untuk membina komunikasi intensif dengan anggota keluarga lainnya. Lantas apakah itu berarti rumah yang tidak memiliki ruang makan tidak memiliki ikatan kekeluargaan yang erat? Sejauh ini belum ada riset yang mencoba untuk membuktikan hipotesis ini, akan tetapi menarik untuk dicermati berapa waktu yang dihabiskan satu keluarga di ruang makan. Waktu makan biasanya tidak lebbih dari satu jam dan komunikasi yang terjadi saat makan tentunya akan terganggu karena adanya santapan lezat yang harus dikunyah.</p>
<p style="text-align:justify;">Kultur masyarakat timur sebetulnya juga tidak menganjurkan untuk makan sambil mengobrol. Besar kemungkinan komunikasi yang terjadi hanya sebatas percakapan ringan atau sekedar menanyakan kabar. Barangkali memang bukan itu tujuan makan bersama dalam satu keluarga. Makanan yang kita nikmati akan terasa lebih lezat jika disantap bersama sama dan suasana kebersamaan juga akan semakin menambah nikmatnya hidangan yang ada. Tentu saja asumsi dasar dari situasi ini harus dipenuhi terlabih dahulu yaitu adanya hubungan yang akrab dengan sesame anggota keluarga. Bukan rahasia lagi jika situasi hubungan kelurga di Indonesai saat ini tidak selalu mesra. Kadangkala ayah berselisih paham dengan anak, ayah dengan ibu atau kakak dengan adik. Dalam situasi permusuhan semacam ini, makan bersama justru akan semakin menghilangkan selera makan dan membuat perut semakin mual.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa jadi makan bersama dalam konteks yang kita bayangkan seperti di drama drama TV Indonesia memang gambaran ideal yang indah, akan tetapi jika dilihat dari struktur ruang rumah rumah tradisional Indonesia kebiasaan makan bersama tersebut terasa begitu formal dan cenderung elit. Kemugkinan masyarakat tradisional Indonesia memang memiliki kebiasaan makan bersama akan tetapi dengan cara yang lebih santai seperti berkumpul di teras rumah, disekitar tungku di dapur atau di ruang serba guna. Memiliki ruang khusus untuk menikmati makan memang baik akan tetapi makan yang baik bisa dilakukan dimana saja asal bersama….bahkan di atas tempat tidur sekalipun seperti dua pengantin baru yang hanya mampu mengontrak satu kamar tidur di sudut kota yang ramai</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=55&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2010/06/25/makan-di-ruang-makan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PINTU DAN ROMANTIKANYA</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2010/06/22/pintu-dan-romantikanya/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2010/06/22/pintu-dan-romantikanya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jun 2010 07:07:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Pintu dalam suatu bangunan memiliki fungsi sebagai katup dimana bidang yang solid diberi lubang untuk memungkinkan pengguna menembus bidang tersebut. Prinsip ini merupakan pembeda yang jelas antara hunian manusia pra-sejarah dan manusia modern yang memanipulasi lingkungannya. Manusia pra-sejarah hidup di gua gua alami yang memiliki bukaan sebagai tempat masuk. Mereka tidak memberi penutup khusus yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=52&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pintu dalam suatu bangunan memiliki fungsi sebagai katup dimana bidang yang solid diberi lubang untuk memungkinkan pengguna menembus bidang tersebut. Prinsip ini merupakan pembeda yang jelas antara hunian manusia pra-sejarah dan manusia modern yang memanipulasi lingkungannya. Manusia pra-sejarah hidup di gua gua alami yang memiliki bukaan sebagai tempat masuk. Mereka tidak memberi penutup khusus yang sebagaimana bentuk pintu yang kita kenal sekarang ini.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://artbanu.files.wordpress.com/2010/06/6060_1150801773636_1335364181_30568728_4058011_n.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-135" title="6060_1150801773636_1335364181_30568728_4058011_n" src="http://artbanu.files.wordpress.com/2010/06/6060_1150801773636_1335364181_30568728_4058011_n.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" width="225" height="300" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sejak kapan manusia mengenal pintu? Catatan sejarah tidak secara jelas menunjukkan kapan saat pertama kali manusia menggunakan pintu sebagai penutup tempat masuk. Fungsi utama pintu bisa jadi merupakan alat pengaman untuk menghalau binatang buas dan “orang lain” yang bermaksud memasuki wilayah tertentu. Jika dilihat dari fungsinya, maka pintu merupakan pengejawantahan konsep teritori dan konsep privasi yang diartikulasikan secara tegas. Hampir semua wilayah yang memiliki batas teritori dan privasi menggunakan pintu, seperti benteng, kamar tidur, kamar mandi dan ruang direktur. Ruang ruang public seperti balai desa dan pendopo biasanya tidak memiliki pintu ( meskipun di bagian pembatas luar ruang tersebut memiliki pagar berpintu). Dari masa kemasa pintu mengalami evolusi yang mempengaruhi bentuk dan fungsinya. Pintu abad pertengahan memiliki bentuk yang berat dan kokoh untuk menghalau tamu-tamu tak diundang dan penjahat yang merajalela dimasa itu. Pintu diabad 20 justru menggunakan material kaca yang　tembus pandang dan mudah dipecahkan dengan batu atau kayu. Perubahan fungsi ini menunjukkan bahwa fungsi pengamanan saat ini tidak semata-mata hanya bergantung pada pintu dan mateialnya, melainkan pada system pengamanan integral dengan CCTV dan alarm.</p>
<p style="text-align:justify;">Pintu kaca tembus pandang jelas tidak mampu melindungi privasi orang di balik pintu tersebut dan sudah barang tentu bukan itu tujuan utama dari pintu kaca. Pintu geser dengan rangka kayu dan penutup kertas di Jepang juga tidak akan mampu melindungi penghuni dari penjahat dan pasti bukan itu pula yang dipikirkan orang Jepang ketika mendisainnya. Pintu kaca memberikan isolasi suara yang sempurna sedangkan pintu rangka kayu dengan panil kertas memberikan efek pencahayaan alami yang lembut. Pintu juga dapat menjadi elemen estetis yang menarik manakala dilapisi dengan kain sutra dan lukisan bertinta emas seperti yang terdapat di Nijo castle Kyoto. Fungsi pintu sebagai pelindung tampatnya bukan harga mati yang harus diacu oleh desainer.　Hal yang harus diingat adalah, aktifitas pribadi yang bersifat personal sebaiknya tetap dilakukan di balik pintu yang tertutup rapat dan aman.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=52&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2010/06/22/pintu-dan-romantikanya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artbanu.files.wordpress.com/2010/06/6060_1150801773636_1335364181_30568728_4058011_n.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">6060_1150801773636_1335364181_30568728_4058011_n</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SISI POSITIF TINGGAL DI LINGKUNGAN KOTA</title>
		<link>http://artbanu.wordpress.com/2010/05/06/sisi-positif-tinggal-di-lingkungan-kota/</link>
		<comments>http://artbanu.wordpress.com/2010/05/06/sisi-positif-tinggal-di-lingkungan-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 May 2010 08:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>artbanu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design And Architecture]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://artbanu.wordpress.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Jika mendengar kata &#8220;Kota&#8221; maka yang terlintas di benak kita adalah simpang siur lalu lintas, polusi, hiruk pikuk manusia serta kesemrawutan kehidupannya. Kota memang memiliki dinamika yang cepat dan agresif. Hampir semua kota besar di dunia memiliki image yang sama dengan variasi dan ciri khas masalah masing masing. Menurut Jonathan Freedman hidup di lingkungan kota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=49&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Jika mendengar kata &#8220;Kota&#8221; maka yang terlintas di benak kita adalah simpang siur lalu lintas, polusi, hiruk pikuk manusia serta kesemrawutan kehidupannya. Kota memang memiliki dinamika yang cepat dan agresif. Hampir semua kota besar di dunia memiliki image yang sama dengan variasi dan ciri khas masalah masing masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Jonathan Freedman hidup di lingkungan kota tidak selamanya negatif, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa pergulatan hidup di kota memang lebih intens dibanding situasi di pedesaan. Hal positif apakah yang bisa diambil dari kehidupan perkotaan yang “kejam”?</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://artbanu.files.wordpress.com/2010/05/204396_1741167452409_1335364181_31887750_6462090_o.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-110" title="204396_1741167452409_1335364181_31887750_6462090_o" src="http://artbanu.files.wordpress.com/2010/05/204396_1741167452409_1335364181_31887750_6462090_o.jpg?w=300&#038;h=195" alt="" width="300" height="195" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Ambilah contoh soal kesehatan masyarakat. Tingkat kesehatan masyarakat kota ternyata lebih tinggi daripada tingkat kesehatan masyarakat pedesaan. Indikator tingkat kesehatan ini bisa dilihat dari perbandingan angka kematian bayi di kota dan desa. Data di Amerika menunjukkan bahwa angka kematian bayi di desa ternyata lebih tinggi jika dibandingkan tingkat kematian bayi di kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Indikator lain yang dapat dipakai sebagai barometer tingkat kesehatan adalah usia harapan hidup. Data menunjukkan bahwa usia harapan hidup masyarakat kota ternyata juga lebih tinggi daripada masyarakat desa.</p>
<p style="text-align:justify;">Freedman tidak memungkiri adanya sisi negative kehidupan kota yang tidak sehat seperti polusi dan asap kendaraan bermotor, namun demikian polusi dan pencemaran ini cenderung terbawa ke wilayah pinggiran sehingga tidak terlalu berpengaruh di pusat kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal lain menarik untuk dicermati adalah kondisi kesehatan mental masyarakat kota dan masyarakat desa. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan mental seperti Schizophrenia cenderung menunjukkan prosentase yang sama antara kota besar di Amerika dan desa kecil di Afrika. Freedman memberikan dua alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi. Gangguan mental kemungkinan disebabkan oleh factor genetis dan tidak berhubungan langsung dengan kondisi lingkungan, selain itu beban persoalan hidup tampaknya memiliki bobot yang sama dimanapun kita berada entah itu di desa ataupun di kota.</p>
<p style="text-align:justify;">Kota memiliki banyak variasi hiburan dan keramaian yang tidak dijumpai di pedesaan. Situasi di desa bisa jadi terasa membosankan dan kurang stimulus bagi sebagian orang sehingga berpotensi memicu kebosanan akut.  Kondisi ini pada taraf tertentu dapat berujung pada gangguan emosi dan stabilitas mental individu. Studi tentang kepuasaan hidup menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat kota memiliki nilai sama baiknya dengan masyarakat desa.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal diatas menunjukkan bahwa hidup di kota tidak selamanya buruk, Freedman menegaskan bahwa kota tidak memiliki nilai “baik” atau “buruk” bagi kondisi kesehatan mental dan fisik.</p>
<p style="text-align:justify;">Di manapun kita tinggal, potensi untuk “terganggu” selalu ada. Masyarakat desa bisa mengalami stress karena minimnya fasilitas. Sebaliknya masyarakat kota juga bisa kehilangan keseimbangan manakala semua fasilitas yang ada berada diluar jangkauan finansialnya. Manusia adalah makhluk yang adaptif terhadap lingkungannya sehingga kondisi lingkungan menurut Freedman tidak mempengaruhi kesehatan mentalnya secara signifikan. Gangguan kesehatan mental lebih sering disebabkan oleh hubungan interpersonal antar individu. Jadi tetaplah memiliki hubungan interpersonal yang baik dimanapun kita berada agar kesehatan mental kita tetap terjaga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/artbanu.wordpress.com/49/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/artbanu.wordpress.com/49/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=artbanu.wordpress.com&amp;blog=1410076&amp;post=49&amp;subd=artbanu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://artbanu.wordpress.com/2010/05/06/sisi-positif-tinggal-di-lingkungan-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/57bcce7250fa1efc2224a50c9045571c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">artbanu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://artbanu.files.wordpress.com/2010/05/204396_1741167452409_1335364181_31887750_6462090_o.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">204396_1741167452409_1335364181_31887750_6462090_o</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
