DESAIN INTERIOR DAN EKSPRESI PRIBADI
Salah satu keistimewaan rumah tinggal modern di Indonesia adalah adanya ruang tamu yang relatif terisolasi dari ruang ruang lain. Isolasi ini tidak selalu bersifat fisik, kadang batas antara ruang tamu dan ruang lainnya hanya dipisahkan dengan jenis perabot yang dipakai. Misal ruang tamu selalu ditandai dengan adanya kursi tamu dan meja, sedangkan ruang sebelahnya biasanya adalah ruang keluarga atau ruang makan yang ditandai dengan kursi santai atau meja makan dan kursinya.
Dalam kondisi yang terbatas kadangkala kita menjumpai ruang keluarga dan ruang tamu yang “tidak terpisah” atau dipakai dengan model multi fungsi. Kondisi ini adalah kondisi yang khusus, secara umum apabila ketersedian ruang dan dana cukup memadai maka kebanyakan keluarga Indonesia memilih untuk memiliki ruang tamu yang “terpisah”.

Jika kita membandingkan rumah tradisional dengan rumah modern maka akan terlihat bahwa symbol symbol yang digunakan oleh rumah modern cenderung bersifat individual dan ekspresif. Rumah tradisional Jawa memiliki Joglo sebagai ruang public yang biasa juga digunakan untuk ruang menerima tamu. Perbedaan yang nyata antara ruang tamu Joglo dan ruang tamu modern adalah pada skalanya. Skala ini dengan sendirinya sudah menunjukkan status social si pemilik rumah.
Ruang tamu modern tidak bisa menunjukkan status social ini dengan segera, meskipun besarnya rumah, model dan bahan yang digunakan oleh rumah tersebut bisa menunjukkan indikasi kuat tentang tingkat pendapatan ekonomi si pemilik rumah. Untuk menunjukkan status dan posisi sosialnya secara jelas, pemilik rumah biasanya menambahkan “hiasan” dalam ruang tamu tersebut. Adalah hal yang wajar jika kita menjumpai foto wisuda di ruang tamu ataupun foto bersalaman dengan Presiden dalam sebuah acara kenegaraan. Hiasan ini membantu mendefinisikan status social si pemiliki rumah kepada para tamunya.
Rumah tradisional menggunakan symbol symbol konvensional yang bersifat komunal untuk menunjukkan status social. Banyaknya tanduk kerbau di rumah Toraja memiliki arti tersendiri bagi masayarakat Toraja yang mungkin tidak dipahami oleh masyarakat Bali. Simbol symbol tradisional dalam interior rumah Jawa lebih mencerminkan nilai filosofis katimbang nilai nilai individu. Dilain pihak rumah rumah di kampung naga cenderung untuk meniadakan hiasan sebagai bentuk kebersamaan.
Kehidupan modern memang menuntun kita untuk menunjukkan jatidiri individu kita kepada orang lain. Kita bisa dikenali dari ciri ciri fisik yang kita miliki akan tetapi pengenalan status social membutuhkan penanda yang lebih kompleks. Seadaninya kita masuk keruang tamu seseorang dan hanya menjumpai tikar dan dinding polos putih tanpa hiasan tentu kita memiliki persepsi tersendiri terhadap si empunya rumah. Entah persepsi itu benar atau tidak hal tersebut tidak menjadi masalah, akan tetapi bahwa kita menilai seseorang dari kondisi ruang tamunya adalah sesuatu yang sulit kita hindari jika bertamu. Ada baiknya kita menata ruang tamu sesuai dengan apa yang ingin orang lihat dari diri kita, tetapi sebaiknya apa yang kita perlihatkan bukanlah hal yang membuat orang bertanya –tanya tapi cukup membuat mereka mengangguk dan memahami siapa diri kita sewajarnya.