PINTU DAN ROMANTIKANYA
Pintu dalam suatu bangunan memiliki fungsi sebagai katup dimana bidang yang solid diberi lubang untuk memungkinkan pengguna menembus bidang tersebut. Prinsip ini merupakan pembeda yang jelas antara hunian manusia pra-sejarah dan manusia modern yang memanipulasi lingkungannya. Manusia pra-sejarah hidup di gua gua alami yang memiliki bukaan sebagai tempat masuk. Mereka tidak memberi penutup khusus yang sebagaimana bentuk pintu yang kita kenal sekarang ini.
Sejak kapan manusia mengenal pintu? Catatan sejarah tidak secara jelas menunjukkan kapan saat pertama kali manusia menggunakan pintu sebagai penutup tempat masuk. Fungsi utama pintu bisa jadi merupakan alat pengaman untuk menghalau binatang buas dan “orang lain” yang bermaksud memasuki wilayah tertentu. Jika dilihat dari fungsinya, maka pintu merupakan pengejawantahan konsep teritori dan konsep privasi yang diartikulasikan secara tegas. Hampir semua wilayah yang memiliki batas teritori dan privasi menggunakan pintu, seperti benteng, kamar tidur, kamar mandi dan ruang direktur. Ruang ruang public seperti balai desa dan pendopo biasanya tidak memiliki pintu ( meskipun di bagian pembatas luar ruang tersebut memiliki pagar berpintu). Dari masa kemasa pintu mengalami evolusi yang mempengaruhi bentuk dan fungsinya. Pintu abad pertengahan memiliki bentuk yang berat dan kokoh untuk menghalau tamu-tamu tak diundang dan penjahat yang merajalela dimasa itu. Pintu diabad 20 justru menggunakan material kaca yang tembus pandang dan mudah dipecahkan dengan batu atau kayu. Perubahan fungsi ini menunjukkan bahwa fungsi pengamanan saat ini tidak semata-mata hanya bergantung pada pintu dan mateialnya, melainkan pada system pengamanan integral dengan CCTV dan alarm.
Pintu kaca tembus pandang jelas tidak mampu melindungi privasi orang di balik pintu tersebut dan sudah barang tentu bukan itu tujuan utama dari pintu kaca. Pintu geser dengan rangka kayu dan penutup kertas di Jepang juga tidak akan mampu melindungi penghuni dari penjahat dan pasti bukan itu pula yang dipikirkan orang Jepang ketika mendisainnya. Pintu kaca memberikan isolasi suara yang sempurna sedangkan pintu rangka kayu dengan panil kertas memberikan efek pencahayaan alami yang lembut. Pintu juga dapat menjadi elemen estetis yang menarik manakala dilapisi dengan kain sutra dan lukisan bertinta emas seperti yang terdapat di Nijo castle Kyoto. Fungsi pintu sebagai pelindung tampatnya bukan harga mati yang harus diacu oleh desainer. Hal yang harus diingat adalah, aktifitas pribadi yang bersifat personal sebaiknya tetap dilakukan di balik pintu yang tertutup rapat dan aman.
