RSS

Monthly Archives: April 2010

Pengertian dasar Desain Interior

Kata desain dalam pengertian dasarnya adalah satu kegiatan untuk memecahkan masalah, Pengertian ini mengandung aktifitas inovasi dan rekayasa dalam rangka menembus kendala atau constrain yang melingkupi satu permasalahan desain. Permasalahan desain tidak selalu muncul dalam bentuk yang nyata dan terdefinisi dengan jelas. Seringkali masalah tersebut terselubung dan hanya tampak samar samar di permukaan.

Tugas desainer adalah menggali permasalahan dan mendefinisikan masalah desain dengan tegas dan jelas. Proses penggalian masalah ini lazim disebut sebagai programming. Programming umumnya dimulai dengan pengumpulan data awal baik berupa kondisi existing ataupun kebutuhan kebutuhan proyek yang diinginkan klien.

Desainer kemudian menganalis kondisi existing dan kebutuhan klien untuk merumuskan konsep dasar dalam desain. Masalah desain biasanya terungkap selama proses analisis ini. Benturan benturan antara kondisi yang ada dengan kebutuhan klien adalah masalah pertama yang harus dipecahkan, akan tetapi analisis yang baik mampu mengungkapkan permasalahan yang lebih spesifik dan manageable untuk dipecahkan.

Setelah masalah terdefinisi dengan jelas desainer dapat mengajukan konsep pemecahan dengan beberapa kalimat yang tegas atau sketsa sketsa skematik. Konsep desain yang terartikulasi dengan baik dapat menjadi sarana komunikasi efektif antara desainer dan kliennya. Melalui konsep ini desainer dank lien dapat bertukar ide, memberikan revisi awal dan memberikan feedback untuk perbaikan desain.

Proses ini merupakan development awal dari kegiatan “mendesain” dan memiliki peran penting bagi pengembangan lanjutan yaitu gambar kerja. Gambar kerja merupakan pengembangan detail dari rencana rencana skematis yang telah disepakati. Gambar kerja mampu mengungkapkan kondisi riil desain dan dapat dijadikan dasar untuk perhitungan biaya dan waktu penyelesaian.

Sketsa desain untuk presentasi awal

Dalam websitenya NCIDQ ( National Council For Interior Designer Qualification ) lembaga sertifikasi professional untuk bidang desain interior di Amerika menyebutkan bahwa desainer interior adalah profesi multi disiplin yang melibatkan kreativitas dan solusi teknologi yang diterapkan dalam struktur untuk mencapai kondisi lingkungan ruang dalam yang terbangun dengan baik. Solusi dalam desain interior bersifat fungsional, meningkatkan kualitas kehidupan dan budaya pemakai ruang serta menyenangkan secara estetis.

Desain diwujudkan untuk merespons dan terkoordinasi dengan kondisi bangunan yang ada dengan mempertimbangan kondisi fisik dan socio-cultural dimana desain tersebut dibangun. Untuk itu desain interior harus mempertimbangkan peraturan dan regulasi bangunan setempat dan mengadopsi prinsip lingkungan keberlanjutan.

Desain interior dalam proses perencanaannya mengikuti serangkaian metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan sistematis meliputi beberapa tahapan yaitu : riset, analisis dan integrasi pengetahuan dalam satu proses kreatif.

Desain Interior adalah suatu upaya sadar atau kegiatan untuk memacahkan permasalahan ruang dalam yang bertujuan mencapai keseimbangan estetis, fungsi, ekonomi dan makna. Masalah-masalah desain timbul dari kondisi kondisi tertentu yang berubah dalam setiap proyek desain. Tantangan bagi desainer terletak pada inovasi pemecahan masalah yang ada, akan tetapi kemampuan desainer untuk menggali masalah merupakan modal utamanya dalam proses berkreasi.

 
Leave a comment

Posted by on 28/04/2010 in Design And Architecture

 

Air dan symbol kemewahan dalam desain

Air merupakan elemen lingkungan yang biasa kita jumpai sehari hari. Keberadaanya dapat kita lihat ditempat yang paling mulia dan paling jorok di muka bumi ini. Situs situs situs sejarah dan agama sering memiliki tempat tempat yang menampung air suci baik berupa kolam, pancuran atau mata air. Ironisnya air juga dapat ditemukan dalam comberan hitam berbau bangkai dan dianggap najis.

Sejarah peradaban manusia mencatat bahwa air merupakan elemen desain yang mengandung symbol kemewahan. Lihatlah desain vila-vila Romawi yang memiliki kolam kolam air dan pancuran. Taman-taman kerajaan juga memiliki kolam kolam untuk pemandian dan berekreasi di mana raja menghabiskan waktu senggangnya bersama permaisuri.

Simbol kemewahan ini tercipta karena nilai capital yang terkandung dalam pembuatan fasilitas tersebut. Membuat kolam berskala besar tentu membutuhkan biaya yang banyak dan perawatan yang berkesinambungan. Tidak semua orang mampu untuk membangun dan merawatnya.

Fasilitas yang dibangun dengan elemen air biasanya dianggap sebagai elemen tersier dan bukan prioritas utama. Meskipun terdengar aneh, kenyataan menunjukkan bahwa kamar mandi bukanlah elemen utama yang harus dimiliki dalam satu rumah tangga. Jika rumah tersebut berada di wilayah yang memiliki sumber air melimpah dan keadaan ekonomi kurang memungkinkan untuk membangun kamar mandi, maka bisa dipastikan rumah tangga tersebut akan memilih sumber air tersebut untuk keperluan mandi.

Masyarakat modern menganggap rumah-rumah yang memiliki kolam renang sebagai rumah orang berada. Jika di dalamnya terdapat akuarium raksasa maka citra “orang berada” ini semakin menguat. Elemen air terjun di dalam ruang yang didisain secara artistic pernah menjadi symbol status kelas menengah ke atas pada era 90-an. Rumah rumah mewah pada saat itu biasanya memiliki karang buatan dan air terjun mini lengkap dengan kolam ikannya.

Efek yang ditimbulkan dari desain yang menggunakan elemen air ini memang menyejukkan dan menenangkan. Kondisi ini secara sosiologis berhubungan erat dengan keadaan orang kaya yang sibuk dan stress sehingga membutuhkan ketenangan di dalam rumahnya.

Efek ketenangan ini sebetulnya memiliki imbas di skala yang lebih besar. Lingkungan kota yang memiliki desain lingkungan air yang bersih dan Indah juga akan memberikan ketenangan bagi warganya. Desain lingkungan air yang baik disatu kota bisa jadi merupakan indicator ekonominya. Sama halnya dengan rumah orang berada yang memiliki kolam renang yang terawat rapi, kota “orang berada” seharusnya juga memiliki sungai sungai yang bersih dan teratur.

 
Leave a comment

Posted by on 26/04/2010 in Design And Architecture

 

Mendesain Ruang (dan Waktu)

Salah satu kunikan rumah tradisional Jepang adalah fleksibilitas ruangnya yang luwes. Berbeda dengan rumah tinggal modern yang didesain dengan menggunakan konsep alokasi ruang, rumah tradisional Jepang didesain dengan konsep alokasi waktu. Perbedaan konsep ini membawa konsekuensi yang berbeda terhadap penampilan ruang.

Konsep alokasi ruang menuntut desainer untuk menentukan terlebih dahulu fungsi ruang yang akan didesain. Misalnya satu rumah tinggal memiliki keluasan 36 meter persegi dan membutuhkan 4 ruang yaitu dapur, ruang keluarga, kamar tidur dan ruang makan. Desainer kemudian membuat zoning ruang dan menentukan area mana saja yang akan digunakan untuk ke 4 ruang tersebut.

Konsep ini biasanya bersifat kaku, artinya sekali suatu ruang ditetapkan sebagai ruang tidur, sulit untuk merubahnya menjadi ruang makan. Ruang tidur akan tetap menjadi ruang tidur dan ruang makan akan tetap menjadi ruang makan. Perubahan hanya mungkin dilakukan jika terjadi renovasi total dan bersifat mendasar.

Berbeda dengan konsep alokasi ruang yang bersifat menetap konsep alokasi waktu tidak membatasi fungsi ruang untuk satu aktifitas tertentu. Rumah tradisional Jepang menggunakan konsep ini untuk mengatasi keterbatasan jumlah ruang yang tersedia. Dalam konsep alokasi waktu, ruang dapat berfungsi untuk mewadahi berbagai aktifitas dalam waktu yang berbeda.

Dipagi hari ruang dapat berfungsi sebagai ruang makan untuk sarapan pagi, setelah sarapan selesai meja makan disimpan dan meja kerja dikeluarkan untuk aktifitas siang hari. Jika malam telah tiba, meja kerja dilipat dan alas tidur dikeluarkan untuk istirahat malam.

Konsep alokasi waktu menuntut penghilangan atribusi ruang, artinya identitas ruang dihilangkan untuk menghindari label ruang yang kaku. Rumah tradisional biasanya minim dekorasi dan memiliki kesamaan bentuk antara ruang yang satu dengan ruang lainnya. Sehingga perubahan fungsi ruang tidak meninggalkan jejak fungsi ruang sebelumnya.

Setelah acara makan selesai maka meja makan dapat dilipat dan ruangan diubah fungsinya menjadi ruang tidur

Penggunaan konsep alokasi waktu sangat cocok bagi rumah yang mungil dan memiliki keterbatasan lahan, hanya saja konsep ini tidak bisa diadopsi serta merta dalam kultur Indonesia mengingat perbedaan cara hidup dan perilaku dalam ruang. Masyarakat Jepang tradisional hanya memiliki beberapa furniture penting seperti Meja dan Futton ( alas tidur ) sehingga penyimpanan barang amat mudah dilakukan.

 
Leave a comment

Posted by on 24/04/2010 in Design And Architecture

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.